Inter Milan Berikan Peforma Mengecewakan di Laga Besar. Musim 2025/26 seharusnya jadi pesta bagi Inter Milan sebagai juara bertahan Serie A. Tapi kenyataannya, Nerazzurri justru tersandung di momen-momen krusial. Kekalahan 2-1 dari Atletico Madrid di Liga Champions Rabu malam lalu jadi puncak kekecewaan, setelah sebelumnya kalah 1-0 dari AC Milan di Derby della Madonnina akhir pekan kemarin. Di bawah Simone Inzaghi, tim ini punya skuad mahal—pengeluaran 250 juta euro musim panas—tapi gagal bersinar di laga besar. Lautaro Martinez, kapten yang cetak 9 gol di derby sejarah, malah flop total musim ini. Apa yang salah dengan tim biru-hitam? INFO CASINO
Derby della Madonnina: Kekalahan yang Sakit: Inter Milan Berikan Peforma Mengecewakan di Laga Besar
Derby akhir pekan lalu di San Siro jadi mimpi buruk bagi Inter. Kalah 1-0 dari Milan, dengan gol tunggal dari Rafael Leao di menit ke-67, ini kekalahan kedua berturut-turut dari rival sekota musim ini. Inter gagal menang di lima derby terakhir: tiga seri, dua kalah. Possession 58% dan 14 tembakan tak berarti apa-apa—mereka cuma ciptakan 0,8 xG (expected goals), terendah di laga besar musim ini. Martinez, yang biasanya monster di derby (9 gol sejarah), tak tembak on target sekali pun. Inzaghi akui timnya “kurang tajam di kotak penalti,” tapi fans marah: ini pertama kalinya sejak 2016 Inter kalah derby tanpa balas. Hasilnya, poin mereka sama dengan Roma di puncak, tapi momentum hilang.
Kegagalan di Liga Champions: Stoppage Time Nightmare: Inter Milan Berikan Peforma Mengecewakan di Laga Besar
Kekalahan 2-1 dari Atletico di Wanda Metropolitano Rabu malam tambah pil pahit. Inter unggul duluan lewat Hakan Calhanoglu di menit ke-23, tapi kebobolan dua gol cepat: satu dari Antoine Griezmann menit 55, dan yang fatal dari Jose Gimenez di stoppage time (menit 92). Ini kekalahan ketiga beruntun di laga tandang Eropa musim ini, dengan margin tipis tapi menyakitkan. Statistik defensif Inter anjlok: 12 gol kebobolan di Serie A sejauh ini, paling banyak di top-4 klasemen. Federico Dimarco lewat peluang emas di menit ketiga, tapi overall, tim ini kalah duel udara 60% dan passing accuracy turun jadi 82%—terburuk di fase grup. Inzaghi sebut “kesalahan individu,” tapi pola jelas: di laga besar, Inter gagal adaptasi tekanan.
Flop Lautaro Martinez dan Masalah Lini Depan
Kapten Inter ini jadi simbol kekecewaan. Di laga besar musim ini—derby, lawan Juventus, Napoli, plus Atletico—Martinez gagal cetak gol dari 12 tembakan, konversi cuma 0%. Musim lalu ia raja Serie A dengan 24 gol; kini, total 7 gol dari 13 laga, tapi nol di momen krusial. Cedera ringan pasca-internasional bikin ia kurang tajam, tapi Inzaghi tak punya opsi: Marcus Thuram bagus di liga kecil, tapi flop di Eropa (0 gol dari 5 laga UCL). Lini depan Inter cetak cuma 18 gol di liga, tapi di laga besar, xG mereka 1,2 per match—efisiensi rendah. Ini bikin tim bergantung Calhanoglu di tengah, yang overload dengan 5 assist tapi defensif lemah.
Kesimpulan
Performa Inter di laga besar musim ini memang mengecewakan: dari derby yang sakit hingga stoppage time di Madrid, semuanya tunjukkan retak fondasi. Inzaghi punya skuad berbakat, tapi tanpa Martinez yang on fire dan rotasi pintar, tim ini rentan. Dengan jadwal padat Desember—termasuk lawan Bayern di UCL—Inzaghi harus perbaiki cepat, atau gelar bertahan cuma mimpi. Fans San Siro sabar, tapi angka tak bohong: ini saat Nerazzurri bangkit, atau risiko tersingkir dini dari Eropa. Inter pernah juara treble; kini, saatnya ingat akar itu sebelum terlambat.

