Ruben Amorim Jadi Salah Satu Pelatih Terburuk MU. Ruben Amorim resmi dipecat oleh Manchester United pada 5 Januari 2026 setelah menjabat selama 14 bulan. Kedatangannya pada November 2024 sempat membawa harapan tinggi, termasuk mencapai final Europa League. Namun, rekornya menunjukkan win percentage sekitar 38-39 persen di semua kompetisi, yang menjadi salah satu yang terendah bagi pelatih permanen klub di era modern. Di Premier League saja, persentase kemenangannya hanya sekitar 32 persen, menjadikannya pelatih dengan catatan terburuk di liga sejak era Premier League dimulai. Pemecatan ini dipicu oleh performa buruk, posisi keenam klasemen, dan ketegangan dengan manajemen. MAKNA LAGU
Rekor Statistik yang Memprihatinkan: Ruben Amorim Jadi Salah Satu Pelatih Terburuk MU
Amorim memimpin sekitar 63 pertandingan, dengan 24-25 kemenangan, 17-18 imbang, dan 21 kekalahan. Win percentage keseluruhan sekitar 38,7 persen membuatnya berada di urutan terbawah dibandingkan pelatih permanen pasca-Sir Alex Ferguson. Di Premier League, dari sekitar 47 laga, ia hanya menang 15 kali, dengan rata-rata poin per pertandingan 1,23—terendah sepanjang sejarah klub di era ini. Rentetan kemenangan terpanjangnya hanya tiga laga, dan tim sering kebobolan mudah dengan rata-rata lebih dari 1,5 gol per laga. Musim pertamanya berakhir di posisi 15, rekor terburuk klub sejak lama, tanpa trofi signifikan meski final Europa League kalah dari Tottenham.
Perbandingan dengan Pelatih Lain Pasca-Ferguson
Dibandingkan pendahulunya, Amorim jelas tertinggal jauh. Jose Mourinho punya win rate tertinggi di era ini dengan 58,3 persen, diikuti Erik ten Hag 54,7 persen, Ole Gunnar Solskjaer 54,2 persen, David Moyes 52,9 persen, dan Louis van Gaal 52,4 persen. Bahkan Ralf Rangnick sebagai interim punya catatan sedikit lebih baik di beberapa metrik. Amorim menjadi pelatih permanen pertama dalam lebih dari 50 tahun dengan win percentage di bawah 40 persen. Faktor ini menegaskan bahwa masa jabatannya tidak hanya buruk, tapi juga historis rendah, terutama mengingat dana besar yang dihabiskan untuk skuad.
Faktor Penyebab Kegagalan: Ruben Amorim Jadi Salah Satu Pelatih Terburuk MU
Kegagalan Amorim tak lepas dari ketegasan mempertahankan formasi 3-4-3 yang tak cocok dengan skuad, kurangnya fleksibilitas taktis, dan konflik internal dengan hierarki soal transfer serta wewenang. Kritik publiknya terhadap manajemen setelah imbang dengan Leeds menjadi pemicu akhir. Tim sering tampil inkonsisten, dengan kekalahan memalukan seperti dari Grimsby di piala domestik, dan gagal membangun momentum jangka panjang. Meski ada momen positif seperti kemenangan atas rival, secara keseluruhan progres minim, membuat klub kehilangan kepercayaan.
Kesimpulan
Ruben Amorim memang mencatatkan diri sebagai salah satu pelatih terburuk Manchester United di era pasca-Ferguson, dilihat dari statistik win percentage, poin rata-rata, dan posisi klasemen. Masa 14 bulannya penuh gejolak, tanpa trofi besar dan dengan rekor historis rendah yang sulit dilupakan. Pemecatan ini mencerminkan pola berulang klub dalam mencari stabilitas, dengan Darren Fletcher sementara mengambil alih. Bagi Amorim, ini jadi pelajaran; bagi United, saatnya evaluasi mendalam agar tak mengulang kesalahan serupa. Di tengah persaingan ketat, kesabaran dan adaptasi menjadi kunci utama.

